Kamis, 29 Januari 2009

Young Muslim Association of Thailand (YMAT)


Young Muslim Association of Thailand (YMAT), Pertubuhan Pemuda Muslim Thailand, sejak 20 hingga 26 Januari 2009 rombongan YMAT ini berada di Indonesia, di Jakarta rombongan sejumlah 34 orang ini di terima Pimpinan Pusat Muhammdiyah. Meskipun menamakan rombongan pemuda tetapi tidak semua yang turut dalam rombongan tersebut masih muda usianya , lebih separoh dari peserta berusia di atas 50.

Enam bulan yang lalu rencana kedatangan ke Indonesia ini telah di gagas mereka, ustaz Daud Jaru seorang simpatisan Muhammadiyah Thailand mengabarkan hal itu. Daud Jaru beberapa kali datang ke Indonesia, seperti dalam kesempatan menghadiri Muktamar Muhammadiyah. Ketua Rombongan adalah Nick Naseer Presiden YMAT saat ini, "Pebruari 2009 depan saya tak menjabat presiden YMAT lagi" ujar Nick Naseer, Undang Undang di Thailand membatasi usia pemuda yang berkiprah di organisai pemuda sebatas 40 tahun saja usia nya , sama dengan di Indonesia.

Dan tidak semua pula rombongan itu anggota YMAT, tetapi hampir semua nya adalah pengelola pondok pesantern di Thailand terutama di Thailand bagian selatan di 4 provinsi yang sekarang sedang bergolak ingin memisahkan diri.

Kenapa ke PP Muhammadiyah? Mungkin hal ini tak lepas dari peranan Ketua PP Muhammadiyah Prof. Din Syamsudin, Din Syamsudin saat bertemu dengan mantan Perdana Menteri Samak di Bangkok membicarakan peranan pendidikan dalam kesatuan bangsa.

Di dalam rombongan ke 34 orang dari Thailand itu terdapat 3 orang peserta dari Kerajaan Thai, seorang wanita dan 2 orang pria, terlihat peserta lain nya agak berhati - hati berbicara malah terdiam apabila menyangkut kebijakan Pemerintahan Thailand yang di terapkan di Thailand Selatan (Patani, Yala, Naratiwat) sedang dibicarakan, ketika salah seorang dari perwakilan kerajaan Thailand itu mendekat.

Di Thailand Selatan ratusan pondok pesantern berdiri, pondok - pondok ini mengajarkan dan berbahasa melayu, itu lah sebabnya hampir semua peserta yang datang itu dapat berbahasa melayu. Kecuali hanya seorang saja dari mereka tidak bisa berbahasa melayu, yaitu wanita tadi keturunan pakistan yang bekerja di kementrian luar negeri.

Seluruh pembiayan mereka adalah di tanggung oleh kerajaan Thailand, "tak payah nak tidur di masjid " tulis Daud Jaruh sembari menjelaskan bahwa perjalanan study banding pondok pesanteren terutama di Thailand Selatan ini dengan yang ada di Indonesia di fasilitasi oleh kerajaan pusat.

Adalah hal biasa dan lumrah bagi pengasuh pondok dan penggiat dakwah tidur dan bermalam di masjid.

Posting lain tentang YMAT
The Young Muslim Association of Thailand (YMAT) bergabung dengan pasukan pengacara dari beberapa negara-negara ASEAN untuk mengatur "ASEAN Association of Muslim Lawyers" pada pertemuan terakhir di Malaysia. Asosiasi yang ditujukan untuk memberikan bantuan hukum kepada orang-orang yang menghadap ketidakadilan, khususnya di bagian selatan perbatasan propinsi di Thailand.

Pertemuan ini diadakan di bawah topik "Lawyers dan Hak Asasi Manusia Kasus di Wilayah Asia Tenggara," sebagai bagian dari kerjasama antara YMAT dan Southern Border Provinces Administrative Center (SBPAC), dengan dukungan finansial dari Departemen Luar Negeri dan the Muslim Lawyers Pusat Malaysia.

Bapak Abdul Aziz Kadae-in, Kepala Bagian YMAT Hak Asasi Manusia dan Ketua Koordinator Proyek, mengatakan bahwa pertemuan merupakan salah satu dari beberapa proyek untuk mengembangkan ide dan meningkatkan kreativitas pada saat krisis. J-10 anggota tim Indonesia yang terdiri dari pengacara dari Pattani, Narathiwat, dan Yala, pengacara hak asasi manusia, YMAT pekerja, dan pejabat dari Departemen Luar Negeri.

Peserta lainnya dan pengacara hak asasi manusia kampanye dari Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Filipina. Orang-orang di Thailand ditemukan delegasi pertemuan sangat informatif, dengan pengacara dari wilayah konflik, seperti Aceh dan Mindanao, recounting pengalaman mereka dalam lama berjuang untuk hak asasi manusia.

Peserta sepakat untuk meniru dekat hubungan di antara mereka, dengan pembukaan "ASEAN Association of Muslim Lawyers" untuk mengkoordinasikan pekerjaan mereka dan menjaga informasi anggota. Sekretariat Asosiasi akan berada di Kuala Lumpur, Malaysia, dan anggota akan bertemu setiap tiga bulan.

Thailand akan diwakili oleh Bapak Ali Adilan-ISHA, seorang pengacara, Bapak Abdul Aziz Kadae-in, seorang pengacara hak asasi manusia, dan Ibu Pornpen Kongkajornkiat, lain hak asasi manusia pekerja dari Cross Cultural Foundation.

Langsung kontak dan koordinasi antara dekat pengacara di daerah konflik adalah tanda-tanda baik untuk perdamaian di seluruh wilayah ASEAN.

Di kutip dan di translate dari http://thailand.prd.go.th/southern_situation/view_south.php?id=4028

Selasa, 27 Januari 2009

Pusat Dakwah Muhammadiyah Asean di Batam



Pusat Dakwah Muhammadiyah Asean, sejak di tubuhkan tahun 1996 nyaris tak ada kegiatan, di awal reformasi di Indonesia tokoh tokoh Muhammadiyah banyak yang berkiprah di politik, terakhir tahun 2004 di Pulau Pinang Malaysia di bentuk kepengurusan Muhammadiyah Asean, kala itu di tunjuk sebagai setia usaha dari Singapura adalah Jamal Tukimin, dari Indonesia Suparjan dan dari Malaysia Abdul Wahab.

Memudahkan koordinasi, sekretariat tetap di Indonesia yaitu di Batam. Pertemuan di Hotel Malaysia Pulau Pinang dari Pimpinan pusat hadir Rusydi Hamka, Godwill Zubair, dari Batam hadir Imam Bachroni, Suparjan, Suparjan saat itu adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammdiyah (PDM) Batam, sementara tuan rumah Malaysia puluhan peserta yang hadir, demikian pula beberapa orang utusan dari Thailand, seperti Nick Naseer dan Roosdi hadir di pertemuan itu.


Dua belas tahun sejak pertemuan itu tak pernah lagi ada pertemuan lanjutan, keberadaan Muhammadiyah Asean pernah di bicarakan saat Muktamar Muhammdiyah di Jakarta.

Tahun 2005 yang lalu ustaz Wahab dari Kulim Kedah Malaysia, mendapat mandat dari PP Muhammadiyah, membentuk Muhammadiyah Internasional dengan bidang garapan muslim minoritas terutama di negara-negara Asean.

Beberapa Negara sudah di kunjungi, seperti Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand.
ustaz yang sudah sepuh ini terkesan bekerja sendiri.

Sabtu, 24 Januari 2009

MESJID PERTAMA DI PARAPAT

Masjid Raya Tanjung Pinang Kepulauan Riau

Menarik untuk di posting ulang, karena mungkin tidak semua bisa membaca tulisan di harian Kompas, terutama untuk informasi masjid pertama di Parapat yang di dirikan oleh Bung Karno semasa pembuangan, di kota sejuk di pinggiran Danau Toba yang terkenal itu.

Bila kita dari Sipirok lewat Pahae, betul seperti yang di tulis Neta “Sementara sajian di kedai-kedai pinggir jalan saya agak meragukan kehalalannya.”
Berjalan kaki menyusuri Parapat banyak hal menarik didapat. Di balik jalannya yang berliku dan turun-naik, Parapat menyimpan begitu banyak bangunan tua berarsitektur menggoda.

Parapat adalah kelurahan di tepi teluk di Danau Toba, masuk Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Lebih dari 90 persen penduduknya beretnis Batak Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak. Selebihnya, etnis Jawa, Sunda, Padang, dan China. Tak heran jika di kota kecil ini terdapat gereja Protestan dan Katolik, masjid, dan wihara.

Berjalan kaki menyusuri Parapat mengingatkan kita pada dahsyatnya letusan gunung api di sana ribuan tahun lalu. Letusan itu membentuk danau berukuran 100 km x 30 km dan berada 1.000 meter dari permukaan laut, dengan Pulau Samosir di tengahnya. Menakjubkan.

Rasa takjub sebenarnya sudah muncul jauh sebelum memasuki Parapat. Lepas dari Pematang Siantar, dari atas ketinggian tebing curam, kita sudah disuguhi keindahan Danau Toba yang menghampar biru di kejauhan. Hingga setengah jam kendaraan menuruni bukit terjal dan berkelok-kelok di bibir kawah Danau Toba, dapat disaksikan sisa muntahan bebatuan dan abu vulkanik yang menurut peneliti Universitas Teknologi Michigan, Amerika Serikat, sebagai bekas letusan maha dahsyat pada 75.500 tahun lalu. Letusan itu memuntahkan bebatuan dan abu vulkanik hingga radius 2.000 km² serta menimbulkan kegelapan selama dua minggu.

Petualangan jalan kaki saya mulai dari tengah kota, di perempatan jalan depan Inna Parapat. Hotel ini dibangun tahun 1911 dan menjadi hotel pertama di kota itu.
Dari sini saya menyusuri Jalan Marihat menuju kawasan Tanjung Sipora-pora hingga ke ujung barat. Jalan kecil berliku dan turun-naik cukup menguras tenaga. Di sepanjang jalan terdapat beberapa bangunan tua dengan arsitektur bergaya kolonial Belanda, sebagian besar kurang terawat.

Wisata arsitektur

Di kawasan paling ujung kembali saya menemukan hal menakjubkan. Sebuah bangunan kuno berdiri kokoh di ujung tanjung bertebing sangat curam. Di kejauhan, di depannya terlihat fatamorgana Pulau Samosir bertemu dengan daratan Sumatera. Jika cuaca cerah, pada sore hari dari gedung ini terlihat jelas proses matahari terbenam di fatamorgana Samosir.

Di tempat ini, pada 1 Januari 1949, Presiden Soekarno diasingkan Belanda. Bung Karno bersama Agus Salim dan Sutan Syahrir dipindahkan ke sana setelah sebelumnya diasingkan di Brastagi, Kabupaten Karo.
Pesanggrahan buatan tahun 1820 itu berukuran 10 meter x 20 meter, dikelilingi halaman seluas dua hektar. Bangunannya bergaya arsitektur neoklasik atau dikenal sebagai Indische Architectuur.

Dari pesanggrahan ini saya jalan memutar menuju timur. Di sisi kanan ada beberapa bangunan tua dan di sisi kiri Danau Toba menghampar. Sementara jauh di seberangnya terlihat mobil kecil-kecil melaju mengisi kesibukan lalu lintas Trans-Sumatera.
Dari sini saya kembali ke tempat awal dan langsung menuju kawasan timur Parapat melalui Jalan Bukit Barisan. Jalanan menanjak curam. Di sisi kiri-kanan jalan sangat banyak terdapat bangunan bergaya arsitektur kolonial. Beberapa di antara bangunan tua itu dijadikan kantor instansi pemerintah.

Kawasan ini tampaknya menjadi pusat kota tua Parapat. Soalnya dari seluruh tempat di Parapat hanya di kawasan ini cukup banyak terdapat bangunan bergaya arsitektur kolonial.

Gaya arsitektur bangunan di kawasan ini merupakan perpaduan selaras antara tiga unsur: tradisional, modern, dan tropis. Karya arsitektur yang ada umumnya menunjukkan perhatian besar pada iklim tropis Parapat terlihat pada jendela dan kisi-kisi ventilasi yang menjulang tinggi dari lantai ke langit-langit.

Meski Parapat kota sejuk, jendela dan kisi-kisi itu difungsikan juga sebagai corong pergantian udara dan juga agar penghuni dapat leluasa memanfaatkan cahaya matahari.
Di tempat ini terdapat beberapa bangunan dengan gaya arsitektur dipengaruhi aliran Delf. Hal ini terlihat dari upaya menggabungkan bangunan kotak dengan sistem kisi (grid) rasional, yang kemudian diperkaya dengan unsur pracetak untuk dinding luar.
Di bagian tengah kawasan timur ini terdapat bangunan gereja HKBP, mewakili arsitektur transisi klasik Eropa, terlihat modern tetapi tetap berciri tropis.
Di Parapat, bangunan tempat peristirahatan umumnya terinspirasi arsitektur vernakular Nusantara dengan adaptasi pada iklim. Ciri khasnya, halaman rumah adalah rerumputan yang menghampar luas.

Bagi orang Batak, rumah memang lebih dari sekadar tempat tinggal, tapi juga bangunan yang ditata secara perlambang, berkonteks dengan sosial budaya dan status kedudukan di dalam masyarakat.

Potensi besar

Meski Bung Karno sangat singkat bermukim di Parapat, tetapi dia menorehkan sejarah baru dengan memprakarsai berdirinya masjid di kota ini.
Pada tahun 1949, saat hendak melaksanakan shalat Jumat, Bung Karno tidak menemukan masjid di kota ini. “Di sini belum ada masjid. Dirikanlah masjid untuk shalat orang-orang Islam yang singgah,” ujar Bung Karno.
Mendengar ucapan sang Proklamator, Abdul Halim Pardede mewakafkan sebidang tanahnya untuk pembangunan Masjid Taqwa.

Parapat tentunya tak hanya bersejarah bagi umat Muslim, tetapi juga sangat bersejarah bagi umat Nasrani Batak Toba. Pada tahun 1909 dilakukan proses permandian suci oleh Pendeta Theis terhadap 38 orang Batak di kota ini setelah pada 12 Februari 1900 Pendeta Samuel Panggabean dan Friederich Hutagalung diutus ke daerah sekitar Danau Toba untuk menyebarkan agama Kristen.

Dari sini terlihat Parapat memiliki wisata alam, wisata arsitektur, dan potensi wisata rohani, wisata sejarah, bahkan wisata kuliner.
Parapat memiliki kuliner yang menarik, seperti lomok-lomok (lemak), ikan naniura (ikan mas yang dimasak pakai asam), ikan naniarsik (ikan mas yang diarsik), lapet, dali (susu sapi), sop ikan danau toba (nila) asam pedas, ikan bakar hopar, dan ikan pora-pora goreng. Memang kuliner khas Batak ini baru bisa dinikmati di hotel-hotel berbintang dengan harga relatif mahal. Sementara sajian di kedai-kedai pinggir jalan saya agak meragukan kehalalannya.

Sayangnya Parapat dengan segala potensinya tak kunjung mampu menarik wisatawan. Parapat terlalu sepi jika dibandingkan dengan Bali. Sepanjang hari hanya saya seorang diri yang menyusuri kota wisata ini.

Kamis, 15 Januari 2009

Yahudi AS, Pindah Ke Israel dan Masuk Islam


Hendra, Humas Bandar Udara Hang Nadim pindah ke Batam dari Jogjakarta, justru di Batam membawa nya pada cahaya Islam sebagaimana Joseph Cohen seorang Yahudi Ortodoks kelahiran AS hijar ke Israel malah jadi Muslim.

Pada tahun 1998, Joseph Cohen seorang Yahudi Ortodoks kelahiran AS hijrah ke Israel karena keyakinannya yang sangat kuat pada ajaran Yudaisme. Ia kemudian tinggal di pemukiman Yahudi Gush Qatif di Gaza (Israel mundur dari wilayah Jalur Gaza pada tahun 2005).
Cohen tak pernah mengira bahwa kepindahannya ke Israel justru membawanya pada cahaya Islam. Setelah tiga tahun menetap di Gaza, Cohen memutuskan untuk menjadi seorang Muslim setelah ia bertemu dengan seorang syaikh asal Uni Emirat Arab dan berdiskusi tentang teologi dengan syaikh tersebut lewat internet. Setelah masuk Islam, Cohen mengganti namanya dengan nama Islam Yousef al-Khattab.
Tak lama setelah ia mengucapkan syahadat, istri dan empat anak Yousef mengikuti jejaknya menjadi Muslim. Sekarang, Yousef al-Khattab aktif berdakwah di kalangan orang-orang Yahudi, meski ia sendiri tidak diakui lagi oleh keluarganya yang tidak suka melihatnya masuk Islam.
"Saya sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga saya. Kita tidak boleh memutuskan hubungan kekeluargaan, tapi pihak keluarga saya adalah Yahudi dengan entitas ke-Yahudi-annya. Kami tidak punya pilihan lain, selain memutuskan kontak untuk saat ini. Kata-kata terakhir yang mereka lontarkan pada saya, mereka bilang saya barbar," tutur Yousef tentang hubungan dengan keluarganya sekarang.
Ia mengakui, berdakwah tentang Islam di kalangan orang-orang Yahudi bukan pekerjaan yang mudah. Menurutnya, yang pertama kali harus dilakukan dalam mengenalkan Islam adalah, bahwa hanya ada satu manhaj dalam Islam yaitu manhaj yang dibawa oleh Rasululullah saw yang kemudian diteruskan oleh para sahabat-sahabat dan penerusnya hingga sekarang.
"Cara yang paling baik untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama untuk semua umat manusia adalah dengan memberikan penjelasan berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan yang membedakan antara umat manusia adalah ketaqwaannya pada Allah semata," ujar Yousef.

"Islam bukan agama yang rasis. Kita punya bukti-bukti yang sangat kuat, firman Allah dan perkataan Rasulullah saw. Kita berjuang bukan untuk membenci kaum kafir. Kita berjuang hanya demi Allah semata, untuk melawan mereka yang ingin membunuh kita, yang menjajah tanah air kita, yang menyebarkan kemungkaran dan menyebarkan ideologi Barat di negara kita, misalnya ideologi demokrasi," sambung Yousef.

Ia mengatakan bahwa dasar ajaran agama Yahudi sangat berbeda dengan Islam. Perbedaan utamanya dalam masalah tauhid. Agama Yahudi, kata Yousef percaya pada perantara dan perantara mereka adalah para rabbi. Orang-orang Yahudi berdoa lewat perantaraan rabbi-rabbi mereka.

"Yudaisme adalah kepercayaan yang berbasiskan pada manusia. Berbeda dengan Islam, agama yang berbasis pada al-Quran dan Sunnah. Dan keyakinan pada Islam tidak akan pernah berubah, di semua masjid di seluruh dunia al-Quran yang kita dengarkan adalah al-Quran yang sama," ujar Yousef.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Yahudisme di sisi lain berpatokan pada "tradisi oral" misalnya kitab Talmud yang disusun berdasarkan informasi dari mulut ke mulut yang kemudian dibukukan. Para rabbi sendiri, kata Yousef mengakui, bisa saja banyak hal yang sudah orang lupa sehingga keabsahan kitab tersebut bisa dipertanyakan.

Yousef mengungkapkan, kitab Taurat yang diyakini kaum Yahudi sekarang memiliki sebelas versi yang berbeda dan naskah-naskah Taurat itu bukan lagi naskah asli. "Alhamdulillah, Allah memberikan rahmat pada kita semua dengan agama yang mudah, di mana banyak orang yang bisa menghapal al-Quran dari generasi ke generasi. Allah memberkati kita semua dengan al-Quran," tukas Yousef. Meski demikian, ia meyakini dialog adalah cara terbaik dalam berdakwah terutama di kalangan Yahudi.

Ditanya tentang kelompok-kelompok Yahudi yang mengklaim anti-Zionis. Yousef menjawab bahwa secara pribadi maupun dari sisi religius, ia tidak percaya dengan Yahudi-Yahudi yang mengklaim anti-Zionis. "Dari sejarahnya saja, mereka adalah orang-orang yang selalu melanggar kesepakatan. Mereka membunuh para nabi, oleh sebab itu saya tidak pernah percaya pada mereka, meski Islam selalu menunjukkan sikap yang baik pada mereka," paparnya.

Yousef menegaskan bahwa pernyataannya itu bukan untuk membela orang-orang Palestina ataupun atas nama seorang Muslim. Pernyataan itu merupakan pendapat pribadinya. "Allah Maha Tahu," tandasnya.

Sebagai orang yang pernah tinggal di pemukiman Yahudi di wilayah Palestina, Yousef mengakui adanya diskriminasi yang dilakukan pemerintah Israel terhadap Muslim Palestina. Yousef sendiri pernah dipukul oleh tentara-tentara Israel meski tidak seburuk perlakuan tentara-tentara Zionis itu pada warga Palestina.

"Saya masih beruntung, penderitaan yang saya alami tidak seberat penderitaan saudara-saudara kita di Afghanistan yang berada dibawah penjajahan AS atau saudara-saudara kita yang berada di kamp penjara AS di Kuba (Guantanamo)," imbuhnya dengan rasa syukur.

Allah memberikan hidayah pada umatnya, kadang dengan cara yang tak terduga. Seperti yang dialami Cohen atau Yousef yang justru masuk Islam setelah pindah ke wilayah pendudukan Israel di Gaza. (ln/readingislam)

disini.
http://eramuslim.com

Sabtu, 10 Januari 2009

Din Bantah Muhammadiyah Kerjasama Dengan Israel.



Merebaknya pemberitaan tentang kerjasama Muhammadiyah dengan Israel, membuat Din Syamsudin angkat bicara. Dikatakan dalam Situs Resmi Muhammadiyah, “Berita itu tidak benar. Tidak ada MoU antara Muhammadiyah dengan Israel dan tidak ada bantuan Israel kepada Muhammadiyah” tutur Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) ini.
Din Bantah Muhammadiyah Kerjasama Dengan Israel.

Din yang juga penerima Award sebagai Ambassador for Peace atas prakarsa perdamaian yang dilakukan mengatakan bahwa penyebaran berita itu oleh pihak-pihak tertentu sangat tendensius.

Pernyataan Din ini menanggapi berita yang merebak di dunia maya, diantaranya yang dikeluarkan oleh Eramuslim.com dengan judul Muhammadiyah Jalin Kerjasama dengan Israel, dan beberapa media online lainnya.

Eramuslim sendiri mengangkat berita itu dari islamonine.com "Situs Islamonline melaporkan, lembaga Rescue and Emergency yang berada dibawah naungan Muhammadiyah telah menandatangani kesepakatan kerjasama di bidang kesehatan dengan Magen David Adom (MDA) sebuah organisasi layanan kesehatan nasional Israel. Kerjasama itu senilai 200.000 dollar dan penandatanganannya dilakukan oleh delegasi Muhammadiyah di Tel Aviv, ibukota Israel pada bulan Oktober 2007."

Berikut ini adalah artikel yang diangkat oleh islamonline.com mengenai kerjasama muhammadiyah dengan israel:
Muhammadiyah divided on Israel ties
Israel Ties Divides Indonesians
Gaza's Scary Nights



Referensi:
Muhammadiyah.or.id - Din : Tidak Ada Kerjasama Muhammadiyah dengan Israel
Eramusli.Com - Muhammadiyah Jalin Kerja Sama Dengan Israel

Diposting oleh Muntoha Ihsan

Video Muslim Rohingya yang Terusir dari Negara nya

video

video


video


video


video

Rabu, 07 Januari 2009

Myanmar, Burma, Rohingya, Junta Militer dan Muslim Yang Tertindas

200 orang terdampar di Aceh, sebagian besar lelaki dewasa, di kapal kayu yang kecil mereka berdesak desakan, dehidrasi, kurang makan.

Di Malaysia tak kurang dari 20.000 orang mereka tidak jelas kewarganegaraannya, karena pemerintah Junta Militer tidak mengakui lagi mereka yang melarikan diri dari Myanmar.

Masyarakat Sabang Beri Bantuan Warga Myanmar yang Terdampar

Banda Aceh - Sejumlah warga Sabang mendatangi Rumah Sakit Umum (RSU) Sabang. Kedatangan mereka untuk melihat dan memberikan bantuan makanan dan minuman kepada 200 warga Myanmar yang terdampar di Sabang.

"Warga ramai datang ke Rumah Sakit Umum (RSU) Sabang untuk melihat dan memberikan bantuan kemanusiaan seperti bahan makanan, minuman ringan dan pakaian," kata Direktur RSU Sabang dr Srido Sugono, Rabu (7/1/ 2009).

Srido menjelaskan, sebanyak 45 dari warga yang terdampar itu kini masih dalam perawatan. Mereka mengalami dehidrasi akibat kekurang cairan dan makanan dalam tubuh.

"Warga yang sedang dalam perawatan kami itu semuanya laki-laki berusia antara 30 sampai 50 tahun," ujar Sugono.

Sugono menambahkan, saat ini ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSU Sabang dipenuhi warga Myanmar. Begitu pula dengan aula di rumah sakit milik pemerintah itu.

"Mereka terpaksa kita baringkan di lantai. Namun sebagian besar masalah kesehatan warga asing itu sudah tertanggani dengan pemberian makanan dan minuman serta obat-obatan," kata dia.Koordinasi dengan Kedutaan Myanmar

Pemerintah Kota Sabang telah melakukan koordinasi dengan kedutaan Myanmar terkait kasus ini. Menurut rencana, sebelum dipulangkan ke negara asalnya, para imigran ini akan ditampung di kompleks Lanal Sabang.

"Kami akan siapkan tenda untuk mereka sementara waktu sebelum dipulangkan. Mengenai makanan mereka selama di penampungan juga akan kami tanggung," tutur Wakil walikota Sabang Islamuddin.(djo/djo)

Senin, 05 Januari 2009

MYTH AND REALITY IN OCCUPIED PALESTINE (9/1/09, Friday)

You are invited to attend this special public forum:-
NOT JUST ANOTHER WAR
MYTH AND REALITY IN OCCUPIED PALESTINE

The death of hundreds of people in Gaza brought into limelight once again the happenings in the Occupied Territories . But the final solution to the conflict evades analysts and political observers particularly those working within the Western media whose portrayal of the issue has always been on this assumption: that it is a result of competing national aspirations of the Jews and Muslims for their own state. In order to understand any issue, a knowledge of its origin and background is vital. The Palestinian conflict has been given the utmost coverage, only to cover the truths and give recognition to the myths surrounding its very nature.
So what is the nature of the conflict? Who are the interested parties in the Palestinian question? What are the pitfalls of the countless solutions coming out from Arab and Western capitals? Why have the continued killings of Palestinians generated so much passion among the Arab masses but only statements of regret from their governments? How does it differ from other contemporary wars between nations?

This forum aims not only to dispel the myths and false premises which have together created a flood of analyses on the so-called 'Israel-Palestine' conflict, but also aims to give an overview, historical and current perspective, on the issue.

DATE (FRIDAY) 9 JANUARY 2009
TIME 8:00PM-10:00PM
VENUEBAR COUNCIL AUDITORIUM, BAR COUNCIL BUILDING , JALAN LEBUH PASAR, KUALA LUMPUR
Speakers: Dr Rosli Omar Hishamuddin Rais Dr Farish A Noor Professor Gurdial Singh Nijar

Jointly Organised By The Malaysian Bar&The Malaysian Social Research Institute (MSRI) Cakap-Rakyat Group

Who are the speakers?

Dr Rosli Omar - was trained for his Phd at Imperial College London and is now an Associate Professor at the Department of Electrical Engineering at the University of Malaya 's engineering faculty. His areas of research are mainly on Artifical intelligence, global warming and environment etc. Even though not formally trained politically he has always been interested in humanitarian issues, especially those concerning imperialism and oppression. Due to his deep understanding and extensive reading, he had regularly contributed in various discussions and debates among fellow academicians and youth circles on issues such as globalization, global warming and the middleast conflict.

Hishamuddin Rais - He is still best known for his stewardship of the student movement in the tumultuous 1973-4 demonstrations on subjects like American imperialism and Israeli expansionism, plus the more local concerns of Kedah peasants and Johore squatters – "Baling incident". Throughout his 20 years in self-imposed exile, he remained the Malaysian rebel with a series of adventures in Iraq , Palestine , India , Australia , Moscow , Belgium and finally England . Since his release from 2-year ISA detention during the reformasi era, Hisham is now busy writing, teaching and directing plays, films etc.

Dr. Farish Ahmad-Noor is a Senior Fellow at the Rajaratnam School of International Studies at Nanyang Technical University (NTU), Singapore where he is Director of Research for the Research Cluster on Transnational Religion in Southeast Asia . He is also guest affiliated Professor at both Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) and Sunan Kalijaga Islamic University, Jogjakarta . He is the author of 'Writings on the War on Terror' (2006), 'From Majapahit to Putrajaya' (2005) and 'Islam Embedded: The Historical Development of PAS' (2004).

Professor Gurdial Singh Nijar – (to be confirmed) obtained tertiary qualification in law in King College , London and the University of Malaya . He is Barrister-at- Law, Middle Temple and a registered Advocate and Solicitor in Victoria New South Wales, Australia . He specializes in professional proactive and his current research interest includes many aspects of biodiversity law. He is professor at the Law faculty and the director of the Centre for Biodiversity Law. He has represented Malaysia and the legal profession at numerous international forums and meetings. He has published several books covering civil trial advocacy, indigenous peoples knowledge systems and drafting for lawyers.

Together with the Malaysian Bar, the 2 other co-organisers are:-

The Malaysian Social Research Institute (MSRI), a non profit organisation was inaugurated on 27 November 1959. The purpose of the institute was to produce and publish world-class academic scholarship.

Currently, MSRI continues in its efforts of humanitarian support for the downtrodden, especially for the Palestinian refugees in Lebanon . With the help of caring Malaysians, MSRI's programmes will continue to make a difference in the lives of some of the most unfortunate people in the world.

Among its key objectives is to promote an understanding and appreciation of Muslim and other communities in various parts of the world in pursuance of humanitarian rights and to conscientise the public and mobilize support for people struggling for self-determination and/or suffer from war or other forms of dispossession. Website: www.msri.org. my

CAKAP RAKYAT GROUP - is created on 1 December 2008 by a group of young Malaysians whose main objectives are to organize live discussions, debates and public forums in order to deepen understanding of various issues affecting societies, both at global and local level. Their main target audience are the youths of Malaysia - to promote and strengthen the intellectual capacity of young activists in dealing with various human rights and social issues.
--
Warm regards,

Wong Chai Yi
Suaram Outreach and Events Coordinator
+603-77843525 / +6012-7771152
suaramfos@gmail. com

Ong Jing Cheng
Secretary of Administration
Malaysia Youth And Students Democratic Movement(DEMA)
012-7583779
jingcheng85@ yahoo.com
http://demamalaysia .wordpress. com
----- Forwarded Message ----
From: chaiyi wong
To: Demafriend ; dema06@yahoogroups. com; dema98@yahoogroups. com; Y4C
Sent: Monday, January 5, 2009 10:58:39 AM
Subject: [y4c2006] Public Forum :MYTH AND REALITY IN OCCUPIED PALESTINE (9/1/09, Friday)

Minggu, 04 Januari 2009

PETITION - GAZA: STOP THE BLOODSHED

Forward.

Petition to the UN Security Council, the European Union, the Arab League and the USA:

We urge you to act immediately to ensure a comprehensive ceasefire in the Gaza Strip, to protect civilians on all sides, and to address the growing humanitarian crisis. Only through robust international action and oversight can the bloodshed be stopped, the Gaza crossings safely re-opened and real progress made toward a wider peace in 2009.

http://www.avaaz. org/en/gaza_ time_for_ peace/?cl= 164343675&v=2624


Ong Jing Cheng
Secretary of Administration
Malaysia Youth And Students Democratic Movement(DEMA)
012-7583779
jingcheng85@ yahoo.com
http://demamalaysia .wordpress. com

Candle light vigil in solidarity with the People of Palestine - Stop Israel's Terror in Gaza

Dear friends,

Israel continues to commit mass murder of Palestinian people by launching
massive assault on Gaza. We must condemn the Israel for the slaugther and
express our solidarity with the people of Palestine.

We are calling to hold a *candle light vigil on 11 January 2009 (Saturday)
at Georgetown*, Penang. There will be candle light vigils in other palces in
Malaysia, e.g. Perak, Selangor and Johor.

There will a *planning meeting* coming Tuesday:

*Date: 6 January 2009 (Tue)*
*Time: 8 pm*
*Venue: Suaram Penang Office* (63B-01-07, University Heights, Jalan Sungai
Dua. Located at shophouses oppossite USM Sungai Dua Gate)

For enquiries, please contact Chon Kai 019-5669518 or Kris 016-3337678

All are welcome!

*Stop the massacre! Hands off Gaza! Free Palestine!*

--
International Bureau
Socialist Party of Malaysia / Parti Sosialis Malaysia (PSM)

Address:
No.22A, Lorong Vivekananda, 50470 Brickfields, Kuala Lumpur, MALAYSIA.
Tel: +60-3-22747791, (mobile) +60-19-5669518
Fax: +60-3-87374772
email: (headquarters) psmhq@tm.net. my
(international bureau) int.psm@gmail. com

visit our website at:
http://parti- sosialis. org/

Ong Jing Cheng
Secretary of Administration
Malaysia Youth And Students Democratic Movement(DEMA)
012-7583779
jingcheng85@ yahoo.com
http://demamalaysia .wordpress. com

- Forwarded Message ----
From: International Bureau PSM
To: gmi_penang@yahoogro ups.com; pkpt-committee ; pg-hr-link@yahoogro ups.com
Sent: Sunday, January 4, 2009 8:46:23 PM
Subject: [pg-hr-link] Candle light vigil in solidarity with the People of Palestine - Stop Israel's Terror in Gaza

Kamis, 01 Januari 2009

Pak Din Bukan Din Syamsudin


Pak Din yang ini adalah ketua suku orang sampan atau orang laut, pak Din tinggal di Pulau Air Mas, dari Telaga Punggur Batam ke Pulau Air Mas ditempuh sekitar 15 menit dengan speed boat, Pulau Air Mas masih dikelurahan Ngenang Kecamatan Nongsa masuk dalam pemerintahan Kota Batam.

Menurut data statistik Pulau Ngenang dihuni 177 KK, persis di depan pulau Ngenang ada satu pulau Dapur Arang namanya terkadang disebut pulau Selat Arang kata Johannes RT disitu, jarak pulau Ngenang dengan pulau Dapur Arang kurang lebih 100 meter yang hanya dipisahkan selat, mungkin itu jadi disebut pulau Selat arang.

Di pulau Selat arang inilah ada 8 KK orang sampan atau suku laut yang telah memeluk agama Islam, seorang putri pak Din tinggal di Pulau Selat Arang ini, tidak beragama Islam sebagaimana pak Din.

Di Pulau Kubung pula ada 6 KK orang sampan yang memeluk Islam, di pulau Todak ada 3 KK sedangkan di pulau Raja juga 3 KK, sementara di Pulau Air Mas tempat tinggal pak Din tinggal 8 KK lagi yang memeluk Islam.

Dua dari putri pak Din tak sekeyakinan dengan pak Din karena mengikuti agama suaminya. Seorang putri pak Din yang bernama Poni menerima kami di pulau Air Mas, saat itu hari dah mendekati Ashar tanggal 16 April 2008, putri pak Din yang bernama Poni ini seagama dengan pak Din yaitu agama Islam, Poni menceritakan kerunsingan hatinya tentang kelanjutan sekolah adiknya yang kini duduk di kelas 6 SD, Dia tak mau adiknya sebagaimana anak - anak Pulau Kubung disekolahkan oleh orang Korea di Batam, tak lagi belajar agama.

Pulau Kubung tak jauh dari Pulau Air Mas , sekitar 15 menit dari Ngenang, disana ada sekolah SD kelas jauh , ada ditempatkan guru oleh Dinas Pendidikan Batam, Ibu br Sinaga namanya asal dari Sumatera Utara dah bersuamikan orang pulau Kubung.

Sekolah di Pulau Kubung persis berdiri dan bersebelahan dinding dengan Gereja yang cukup besar untuk ukuran pulau Kubung. Menurut Dormat, dah lama tak pernah ada orang dari Depag atau dari manapun ke pulau itu, mereka terasa seperti terbiar. Islam yang dikuasai mereka setakat pengucapan Syahadat saja. Sementara godaan datang bertubi-tubi dari tetangga sebelah.

Saat hal ini kami konfirmasikan kepada Kakandepag Batam Drs H Kudri Syam 17 April 2008, Kudri membenarkan , dulu ada ditempatkan Dai di situ oleh BAZ Batam tetapi belakangan di tangani oleh sebuah yayasan Alkharomah namanya , Alkharoma hengkang tak memberi kabar kepada BAZ apalagi ke Depag jawab Kudri.

“Besok Jumat (18/04) selepas sholat , pak Zul (ketua BAZ Batam) dan KUA Nongsa akan berkunjung kesana ” kata Kudri, terimakasih informasinya kata Kudri lagi kepada YLKM, melalu telpon menghubungi YLKM Batam

“Apa urusan BAZ datang kesana pak” tanya Yopi dari Sijori Mandiri. BAZ itu adalah Badan Amil Zakat , lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat muslim se Batam ini, harusnya tahu kondisi aghniya, fakir, miskin di sekitaran Batam, mereka para pengurus itu bertanggungjawab dalam hal menerima dan menyalurkan kepada yang benar-benar berhak menerimanya. Tanggungjawab itu dunia dan akhirat, jelas YLKM sok tahu kepada wartawan Harian Sijori Mandiri yang kebetulan menyambangi kantor YLKM di Bengkong dan mendengar pembicaraan telpon YLKM dengan Kakandepag Batam Drs Kudri Syam.

Suku Laut Datang Mengadu ke Muhammadiyah


Suku Laut, di Batam mereka disebut orang sampan, di seputaran Pulau Rupat orang sampan ini dipanggil suku akik. Di pulau pulau sekitaran Batam banyak mereka bermastautin.

Hari minggu 6 April 2008 pak Din ketua suku laut yang bermastautin di pulau Air Mas datang berkunjung ke Pusat Dakwah Muhammadiyah di Tembesi Batu Aji Batam, bersama pak Din demikian pria sekitar 60 tahunan ini biasa dipanggil ada dua orang lagi pria masih kerabat pak Din, dan empat orang wanita paroh baya.

Apa gerangan keperluan pak Din datang ke Pusat Dakwah Muhammadiyah itu? Wajah pak Din terlihat gunda, apa agaknya yang merisauhkan hati pak Din, Pak Din yang telah 20 tahun tak lagi tinggal di sampan-sampan, selama ini hidup tenang dengan anak beranak dan saudara mara mereka di darat, di Pulau Air Mas, tetapi belakangan ini pak Din selalu di sindir-sindir oleh tetangga sebelah rumahnya, yang tak lain masih kerabat dan sanak saudaranya, dulu mereka kerabat dan satu keyakinan, tapi sekarang dah beda.

Pak Din masih beragama Islam, kerabat pak Din yang suka menyindir-nyindir itu sejak tahun 2001 silam telah berganti keyakinan tak lagi memeluk agama Islam, “Mereka dibuatkan rumah oleh orang Korea dan pelantar itu” jelas Poni putri pak Din yang telah berkeluarga dan berjualan kecil-kecilan di rumahnya , bersebelahan dengan rumah yang dibangun oleh orang Korea.

Meskipun pak Din ketua Suku Laut diseputaran pulau - pulau Kelurahan Ngenang, yang masih dalam kecamatan Nongsa kota Batam itu, entah kenapa warganya dah tak lagi hormat kepada pak Din. Bila pak Din lalu di pelantar yang dibuat oleh Korea itu selalu ada saja suara-suara sumbang. “Ini bukan untuk lalu orang Islam” celetuk mereka dari balik dinding. Dinding rumah disitu dengan pelantar tak berjarak, jadi terdengarlah apa yang diucapkan dibalik dinding.

Di Pulau Air Mas ditempat kediaman pak Din ada dua pelantar, pelantar satunya sudah tak layak dilalui lagi karena dah goyang dan lapuk, pelantar yang rusak ni menuju jalan ke Mushalla yang terdapat di Pulau Air Mas dan juga jalan menuju kerumah pak Din.

Itulah sebab sejak pelantar pak Din rusak pelantar bikinan dan sumbangan orang Korea menjadi tempat laluan pak Din dan kerabat pak Din Lainnya begitupun dengan orang-orang dari pulau lain yang nak datang ke Mushalla yang memang hanya terdapat di Pulau Air Mas.

Saat kami berkunjung ke Pulau Air Mas Rabu 16 April 2008 yang baru lalu, ada juga kami mendengar komentar dari warga sebelah dinding mengingatkan bahwa pelantar Korea tuh pun dah mulai bergoyang, dah tak kuat lagi dan memang saat kami lalui pelantar tu bergoyang-goyang.

Siapa agaknya yang tergerak nak memperbaiki pelantar pak Din tu ya?, pak Din betul-betul malu bila nak lalu di pelantar yang dibina oleh orang Korea tu, karena disamping pelantar tu ada rumah ibadah agama lain.

Kami tak sebut pemko Batam, dah bebuih mulut pak Din melaporkan tentang pelantar tu. Hanya saja pak Din nak tunggu janji DR Hablullah Wibisono boleh tak dia merealisasikan janjinya kepada pak Din saat di Muhammadiyah, “Iya iya saya kebetulan dapil Nongsa, nanti akan kami bicarakan di dewan” ujar Hablullah saat itu.

Dibawah ini utipan tulisan dari wikipedia tentang suku laut :

Suku Laut atau sering juga disebut Orang Laut adalah suku bangsa yang menghuni Kepulauan Riau, Indonesia. Secara lebih luas istilah Orang Laut mencakup “berbagai suku dan kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga, Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, dan pesisir dan pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya bagian selatan.”

Sebutan lain buat Orang Laut adalah Lanun (sekarang berarti perompak, bajak laut) atau Orang Selat.

Bahasa Orang Laut memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu. Saat ini mereka umumnya bekerja sebagai nelayan. Seperti suku Bajau Orang Laut terkadang dijuluki sebagai “kelana laut”, karena mereka hidup berpindah-pindah di atas perahu.

Secara historis, Orang Laut dulunya adalah perompak, namun berperan penting dalam Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Johor. Mereka menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, memandu para pedagang ke pelabuhan Kerajaan-kerajaan tersebut, dan mempertahankan hegemoni mereka di daerah tersebut.

Sejarah

Pada zaman kejayaan Malaka, Orang Laut merupakan pendukung penting kerajaan maritim tersebut. Sewaktu Malaka jatuh mereka meneruskan kesetiaan mereka kepada keturunan sultan Malaka yang kemudian mendirikan Kesultanan Johor. Saat Belanda bermaksud menyerang Johor yang mulai bangkit menyaingi Malaka–yang pada abad ke-17 direbut Belanda atas –Sultan Johor mengancam untuk memerintahkan Orang Laut untuk menghentikan perlindungan Orang Laut pada kapal-kapal Belanda.

Pada 1699 Sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir wangsa Malaka-Johor, terbunuh. Orang Laut menolak mengakui wangsa Bendahara yang naik tahta sebagai sultan Johor yang baru, karena keluarga Bendahara dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ketika pada 1718 Raja Kecil, seorang petualang Minangkabau mengklaim hak atas tahta Johor, Orang Laut memberi dukungannya. Namun dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis Sultan Sulaiman Syah dari wangsa Bendahara berhasil merebut kembali tahta Johor. Dengan bantuan orang-orang Laut (orang suku Bentan dan orang Suku Bulang) membantu Raja Kecil mendirikan Kesultanan Siak, setelah terusir dari Johor.

Pada abad ke-18 peranan Orang Laut sebagai penjaga Selat Malaka untuk Kesultanan Johor-Riau pelan-pelan digantikan oleh suku Bugis.

Sejarah Silam Orang Laut

Zaman Kerajaan Srivijaya

Suatu ketika dahulu, Orang Laut digelar sebagai Orang Lanun atau Orang Selat kerana sebelum mereka menumpukan kesetiaan terhadap Kerajaan Srivijaya, mereka pada asalnya adalah sekumpulan lanun yang menguasai sekitar perairan Selat Melaka.

Orang Laut memainkan peranan penting dalam pemerintahan Kerajaan Srivijaya, Kesultanan Melaka dan Kesultanan Johor-Riau. Hubungan rapat di antara Orang Laut dengan ketiga-tiga buah keluarga diraja tersebut telah pun terjalin sejak di awal zaman kerajaan Srivijaya lagi.

Orang Laut juga dikenali sebagai golongan yang sangat setia kepada keluarga diraja Srivijaya. Malah selepas kejatuhan Srivijaya pada tahun 1025, Orang Laut masih meneruskan kesetiaan mereka terhadap Parameswara iaitu putera raja Srivijaya (Palembang) yang terakhir.

Zaman Kesultanan Melaka

Selepas Kerajaan Srivijaya musnah akibat serangan Raja Rajendra Chola I dari India, Parameswara bersama para pengikutnya termasuk Orang Laut mendirikan Kesultanan Melaka di Semenanjung Tanah Melayu. Ketika Melaka mencapai zaman kegemilangannya, Orang Laut merupakan pendukung utama kepada kerajaan maritim tersebut.

Setelah kejatuhan Kesultanan Melaka akibat serangan penjajah Portugis, Orang Laut masih tetap meneruskan kesetiaan mereka terhadap Sultan Melaka yang terakhir iaitu Sultan Mahmud Shah. Mereka telah membantu sultan tersebut mendirikan Kesultanan Johor-Riau di selatan Semenanjung Tanah Melayu.

Zaman Kesultanan Johor-Riau

Setelah Kesultanan Melaka musnah akibat serangan penjajah Portugis, Sultan Melaka yang terakhir iaitu Sultan Mahmud Shah bersama para pengikutnya termasuk Orang Laut mendirikan Kesultanan Johor-Riau dengan ibu kotanya berpusat di Pulau Bentan. Tidak berapa lama kemudian, tentera Belanda telah berjaya merampas negeri Melaka dari tangan penjajah Portugis.

Setelah Melaka berjaya ditawan, pihak Belanda berniat untuk menyerang Kesultanan Johor-Riau yang mulai bangkit dan menyaingi Melaka sebagai pusat perdagangan utama di rantau ini. Maka Sultan Johor mengambil tindakan dengan mengancam pihak Belanda untuk memerintahkan Orang Laut supaya berhenti memberikan perlindungan ke atas kapal-kapal Belanda.

Pada tahun 1699, waris terakhir Wangsa Srivijaya - Melaka - Johor-Riau iaitu Sultan Mahmud Syah II telah mangkat setelah dibunuh oleh Laksamana Bentan yang bernama Megat Seri Rama. Memandangkan baginda masih belum berkahwin dan tidak memiliki sebarang zuriat, maka Bendahara Johor iaitu Tun Abdul Jalil telah melantik dirinya sendiri sebagai Sultan Johor-Riau yang baru dengan gelaran Sultan Abdul Jalil IV. Walau bagaimanapun, perlantikan Bendahara Tun Abdul Jalil sebagai Sultan Johor-Riau tidak diakui oleh Orang Laut. Mereka mengesyaki keluarga Bendahara Johor turut terlibat di dalam pembunuhan tersebut.

Pada tahun 1718, seorang petualang dari Minangkabau bernama Raja Kecil telah menuntut hak ke atas takhta kerajaan Johor-Riau dengan mengakui dirinya sebagai waris Sultan Mahmud Shah II yang sah. Orang Laut dan para pembesar Johor memberikan sokongan kepada Raja Kecil dengan membantunya merampas kuasa dari Sultan Abdul Jalil IV. Setelah berjaya merampas kuasa, Raja Kecil melantik dirinya sendiri sebagai Sultan Johor-Riau yang ke-12 dengan gelaran Sultan Abdul Jalil Rahmat Shah.

Namun begitu, dengan sokongan dan bantuan dari lima putera Bugis bersaudara - Daeng Perani, Daeng Menambun, Daeng Merewah, Daeng Chelak and Daeng Kemasi - putera kepada Sultan Abdul Jalil IV iaitu Raja Sulaiman telah berjaya merampas kembali takhta kerajaan Johor-Riau. Raja Sulaiman telah dinobatkan sebagai Sultan Johor-Riau yang ke-13 dengan gelaran Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah. Raja Kecil pula akhirnya telah diusir keluar dari wilayah Johor-Riau.

Setelah diusir, Raja Kecil telah mendirikan Kesultanan Siak Sri Inderapura di Sumatera dengan bantuan Orang Laut dari suku Bentan dan suku Bulang. Pada abad ke-18, peranan Orang Laut sebagai penjaga keamanan di Selat Malaka untuk Kesultanan Johor-Riau telah mula digantikan oleh orang-orang Bugis secara perlahan-lahan.

Tugas dan Peranan Orang Laut

Tugas umum Orang Laut ialah mengawal kawasan sempadan laut, mengusir lanun-lanun, memimpin para pedagang ke pelabuhan yang ingin mereka tujui dan mengekalkan kekuasaan pelabuhan-pelabuhan tersebut di dalam kawasannya.

Walau bagaimanapun, setiap suku dari kaum Orang Laut telah diberi peranan khas masing-masing oleh Kerajaan Srivijaya, Kesultanan Melaka dan Kesultanan Johor-Riau agar pemerintahan kerajaan berjalan dengan lebih lancar.

Antara tugas-tugas khas yang dilakukan oleh setiap suku dari kaum Orang Laut ialah menjadi tentera kerajaan, tukang-tukang kayu, tukang-tukang senjata, pengayuh kapal-kapal perang, penjaga anjing-anjing perburuan dan pembawa surat-surat raja ke negara-negara jiran.

Suku-Suku Orang Laut

Istilah Orang Laut secara umumnya merangkumi pelbagai jenis kelompok suku pribumi di selatan Semenanjung Malaysia, Singapura dan timur Pulau Sumatera, Indonesia. Jumlah sebenar suku-suku yang tergolong di dalam kaum Orang Laut tidak diketahui kerana tiada catatan sejarah lengkap mengenainya.

Kebanyakan suku-suku Orang Laut yang pernah wujud suatu ketika dahulu kini tidak lagi wujud pada zaman sekarang. Golongan ini telah memeluk agama Islam dan berasimilasi dengan masyarakat Melayu melalui perkahwinan. Situasi ini boleh dilihat di Singapura dimana masyarakat Orang Laut di pulau tersebut telah ‘lenyap’ akibat proses asimilasi dengan orang Melayu.

Walau bagaimanapun, masih terdapat segelintir suku-suku Orang Laut yang kekal wujud hingga ke hari ini. Saki-baki kumpulan Orang Laut ini boleh ditemui di Malaysia, Indonesia dan Thailand. Golongan ini berjaya mengekalkan kewujudan suku masing-masing kerana kurang berhubung dengan masyarakat luar.