Ditulis oleh : ust Zenal Satiawan Lc dalam Buletin Jumat
"Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itulah orang-orang yang menepati jalan hidayah." (QS. Al-An'am: 82)
Diriwayatan oleh Imam Bukhari, "Ketika turun ayat, 'Orang-orang yang beriman, dan tidak menodai iman mereka dengan kedzaliman', kami (para sahabat) berkata, 'Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak mendzalimi dirinya?' Beliau bersabda, 'Bukan seperti yang kamu katakan, mereka tidak menodai iman mereka dengan kedzaliman, tetapi dengan kemusyrikan. Bukankah kamu telah memperhatikan perkataan Luqman kepada anaknya?, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya, mempersekutukan Allah adalah kedzaliman yang besar' (Luqman: 13)'."
Imam Ibnu katsir mengomentari ayat tersebut., "Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah saja, mereka tidak menyekutukan-Nya sama sekali, dan mereka itulah orang-orang yang tenteram pada hari kiamat dan mendapat petunjuk di dunia akherat."
Banyak orang yang mengaku dirinya beriman, akan tetapi di waktu yang bersamaan, dia juga melakukan hal-hal yang merusak keimanannya itu, bahkan sampai menggugurkan iman itu sendiri. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor; di antaranya, karena kebodohan mereka (al-Jahl), atau karena kesombongan dan keangkuhan mereka sehingga mereka tidak mau menerima kebenaran yang disampaikan pada mereka (al-Kibr). Padahal, dalam masalah keimanan dan tauhid, tidak ada udzur (alasan) kebodohan. Jadi, seseorang tidak bisa beralasan dengan kebodohan (ketidaktahuan)nya ketika salah dalam masalah iman dan tauhid ini. Dan salah dalam masalah ini akan berakibat fatal. Masalah keimanan dan tauhid ini adalah masalah yang sangat prinsip bagi seorang muslim, yang merupakan dasar dan pondasi baginya, yang menentukan kuat tidaknya bangunan yang dibangun di atas pondasi itu. Tetapi, justru kebanyakan manusia bodoh dalam hal ini, sehingga sadar atau tidak sadar mereka sering menodai keimanan mereka itu.
Tauhid (iman) dan syirik, tidak akan mungkin pernah bersatu di hati seseorang. Karena keduanya bertentangan. Jika beriman, maka harus menghilangkan dan membuang jauh-jauh kesyirikan. Jika seseorang melakukan kesyirikan (syirik besar), secara langsung keimanan akan luntur dan batal.
Adapun hal-hal yang termasuk perbuatan syirik sangatlah banyak. Yang semua itu intinya adalah mempersekutukan Allah, atau menjadikan tandingan untuk Allah. Terkadang seseorang melakukan suatu perbuatan yang dia yakini bahwa perbuatan itu adalah benar karena dia melakukannya tanpa petunjuk (dalil), hanya karena persangkaan atau karena ikut-ikutan, padahal perbuatannya itu adalah termasuk kesyirikan. Maka, terhapuslah amalan yang dia lakukan itu atau semua amalnya, dan akhirnya, dia akan menanggung beban yang teramat sangat berat di hadapan Allah. Sebab, syirik adalah merupakan dosa besar yang paling besar. Dan tidak akan diampuni apabila tidak bertobat sebelum nyawa sampai di tenggorokan.
Kendati demikian, idealnya kita harus berusaha sekuat tenaga dan semampu kita untuk meninggalkan segala macam dosa. Karena, para ulama' mengategorikan segala macam dosa ke dalam kedzaliman. Baik itu dzalim kepada diri sendiri, atau dzalim kepada orang lain. Adapun kedzaliman yang paling besar adalah kedzaliman dalam masalah tauhid, yaitu kedzaliman seorang hamba kepada Allah swt. Yang disebut dengan dosa itu adalah bersumber dari dua hal; meninggalkan perintah, atau mengerjakan larangan. Dan dari semua itu, perkara yang paling besar adalah yang berkaitan dengan iman dan tauhid. Perintah yang paling utama adalah tauhid, dan larangan yang paling besar adalah syirik.
Ya Allah, lindungilah kami dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu, sedangkan kami mengetahuinya. Dan ampunilah kami, terhadap suatu kesyirikan yang kami tidak mengetahuinya.
Tampilkan postingan dengan label Burma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burma. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 November 2009
Sabtu, 10 Januari 2009
Rabu, 07 Januari 2009
Myanmar, Burma, Rohingya, Junta Militer dan Muslim Yang Tertindas
200 orang terdampar di Aceh, sebagian besar lelaki dewasa, di kapal kayu yang kecil mereka berdesak desakan, dehidrasi, kurang makan.
Di Malaysia tak kurang dari 20.000 orang mereka tidak jelas kewarganegaraannya, karena pemerintah Junta Militer tidak mengakui lagi mereka yang melarikan diri dari Myanmar.
Masyarakat Sabang Beri Bantuan Warga Myanmar yang Terdampar
Banda Aceh - Sejumlah warga Sabang mendatangi Rumah Sakit Umum (RSU) Sabang. Kedatangan mereka untuk melihat dan memberikan bantuan makanan dan minuman kepada 200 warga Myanmar yang terdampar di Sabang.
"Warga ramai datang ke Rumah Sakit Umum (RSU) Sabang untuk melihat dan memberikan bantuan kemanusiaan seperti bahan makanan, minuman ringan dan pakaian," kata Direktur RSU Sabang dr Srido Sugono, Rabu (7/1/ 2009).
Srido menjelaskan, sebanyak 45 dari warga yang terdampar itu kini masih dalam perawatan. Mereka mengalami dehidrasi akibat kekurang cairan dan makanan dalam tubuh.
"Warga yang sedang dalam perawatan kami itu semuanya laki-laki berusia antara 30 sampai 50 tahun," ujar Sugono.
Sugono menambahkan, saat ini ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSU Sabang dipenuhi warga Myanmar. Begitu pula dengan aula di rumah sakit milik pemerintah itu.
"Mereka terpaksa kita baringkan di lantai. Namun sebagian besar masalah kesehatan warga asing itu sudah tertanggani dengan pemberian makanan dan minuman serta obat-obatan," kata dia.Koordinasi dengan Kedutaan Myanmar
Pemerintah Kota Sabang telah melakukan koordinasi dengan kedutaan Myanmar terkait kasus ini. Menurut rencana, sebelum dipulangkan ke negara asalnya, para imigran ini akan ditampung di kompleks Lanal Sabang.
"Kami akan siapkan tenda untuk mereka sementara waktu sebelum dipulangkan. Mengenai makanan mereka selama di penampungan juga akan kami tanggung," tutur Wakil walikota Sabang Islamuddin.(djo/djo)
Di Malaysia tak kurang dari 20.000 orang mereka tidak jelas kewarganegaraannya, karena pemerintah Junta Militer tidak mengakui lagi mereka yang melarikan diri dari Myanmar.
Masyarakat Sabang Beri Bantuan Warga Myanmar yang Terdampar
Banda Aceh - Sejumlah warga Sabang mendatangi Rumah Sakit Umum (RSU) Sabang. Kedatangan mereka untuk melihat dan memberikan bantuan makanan dan minuman kepada 200 warga Myanmar yang terdampar di Sabang.
"Warga ramai datang ke Rumah Sakit Umum (RSU) Sabang untuk melihat dan memberikan bantuan kemanusiaan seperti bahan makanan, minuman ringan dan pakaian," kata Direktur RSU Sabang dr Srido Sugono, Rabu (7/1/ 2009).
Srido menjelaskan, sebanyak 45 dari warga yang terdampar itu kini masih dalam perawatan. Mereka mengalami dehidrasi akibat kekurang cairan dan makanan dalam tubuh.
"Warga yang sedang dalam perawatan kami itu semuanya laki-laki berusia antara 30 sampai 50 tahun," ujar Sugono.
Sugono menambahkan, saat ini ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSU Sabang dipenuhi warga Myanmar. Begitu pula dengan aula di rumah sakit milik pemerintah itu.
"Mereka terpaksa kita baringkan di lantai. Namun sebagian besar masalah kesehatan warga asing itu sudah tertanggani dengan pemberian makanan dan minuman serta obat-obatan," kata dia.Koordinasi dengan Kedutaan Myanmar
Pemerintah Kota Sabang telah melakukan koordinasi dengan kedutaan Myanmar terkait kasus ini. Menurut rencana, sebelum dipulangkan ke negara asalnya, para imigran ini akan ditampung di kompleks Lanal Sabang.
"Kami akan siapkan tenda untuk mereka sementara waktu sebelum dipulangkan. Mengenai makanan mereka selama di penampungan juga akan kami tanggung," tutur Wakil walikota Sabang Islamuddin.(djo/djo)
Senin, 05 Januari 2009
MYTH AND REALITY IN OCCUPIED PALESTINE (9/1/09, Friday)
You are invited to attend this special public forum:-
NOT JUST ANOTHER WAR
MYTH AND REALITY IN OCCUPIED PALESTINE
The death of hundreds of people in Gaza brought into limelight once again the happenings in the Occupied Territories . But the final solution to the conflict evades analysts and political observers particularly those working within the Western media whose portrayal of the issue has always been on this assumption: that it is a result of competing national aspirations of the Jews and Muslims for their own state. In order to understand any issue, a knowledge of its origin and background is vital. The Palestinian conflict has been given the utmost coverage, only to cover the truths and give recognition to the myths surrounding its very nature.
So what is the nature of the conflict? Who are the interested parties in the Palestinian question? What are the pitfalls of the countless solutions coming out from Arab and Western capitals? Why have the continued killings of Palestinians generated so much passion among the Arab masses but only statements of regret from their governments? How does it differ from other contemporary wars between nations?
This forum aims not only to dispel the myths and false premises which have together created a flood of analyses on the so-called 'Israel-Palestine' conflict, but also aims to give an overview, historical and current perspective, on the issue.
DATE (FRIDAY) 9 JANUARY 2009
TIME 8:00PM-10:00PM
VENUEBAR COUNCIL AUDITORIUM, BAR COUNCIL BUILDING , JALAN LEBUH PASAR, KUALA LUMPUR
Speakers: Dr Rosli Omar Hishamuddin Rais Dr Farish A Noor Professor Gurdial Singh Nijar
Jointly Organised By The Malaysian Bar&The Malaysian Social Research Institute (MSRI) Cakap-Rakyat Group
Who are the speakers?
Dr Rosli Omar - was trained for his Phd at Imperial College London and is now an Associate Professor at the Department of Electrical Engineering at the University of Malaya 's engineering faculty. His areas of research are mainly on Artifical intelligence, global warming and environment etc. Even though not formally trained politically he has always been interested in humanitarian issues, especially those concerning imperialism and oppression. Due to his deep understanding and extensive reading, he had regularly contributed in various discussions and debates among fellow academicians and youth circles on issues such as globalization, global warming and the middleast conflict.
Hishamuddin Rais - He is still best known for his stewardship of the student movement in the tumultuous 1973-4 demonstrations on subjects like American imperialism and Israeli expansionism, plus the more local concerns of Kedah peasants and Johore squatters – "Baling incident". Throughout his 20 years in self-imposed exile, he remained the Malaysian rebel with a series of adventures in Iraq , Palestine , India , Australia , Moscow , Belgium and finally England . Since his release from 2-year ISA detention during the reformasi era, Hisham is now busy writing, teaching and directing plays, films etc.
Dr. Farish Ahmad-Noor is a Senior Fellow at the Rajaratnam School of International Studies at Nanyang Technical University (NTU), Singapore where he is Director of Research for the Research Cluster on Transnational Religion in Southeast Asia . He is also guest affiliated Professor at both Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) and Sunan Kalijaga Islamic University, Jogjakarta . He is the author of 'Writings on the War on Terror' (2006), 'From Majapahit to Putrajaya' (2005) and 'Islam Embedded: The Historical Development of PAS' (2004).
Professor Gurdial Singh Nijar – (to be confirmed) obtained tertiary qualification in law in King College , London and the University of Malaya . He is Barrister-at- Law, Middle Temple and a registered Advocate and Solicitor in Victoria New South Wales, Australia . He specializes in professional proactive and his current research interest includes many aspects of biodiversity law. He is professor at the Law faculty and the director of the Centre for Biodiversity Law. He has represented Malaysia and the legal profession at numerous international forums and meetings. He has published several books covering civil trial advocacy, indigenous peoples knowledge systems and drafting for lawyers.
Together with the Malaysian Bar, the 2 other co-organisers are:-
The Malaysian Social Research Institute (MSRI), a non profit organisation was inaugurated on 27 November 1959. The purpose of the institute was to produce and publish world-class academic scholarship.
Currently, MSRI continues in its efforts of humanitarian support for the downtrodden, especially for the Palestinian refugees in Lebanon . With the help of caring Malaysians, MSRI's programmes will continue to make a difference in the lives of some of the most unfortunate people in the world.
Among its key objectives is to promote an understanding and appreciation of Muslim and other communities in various parts of the world in pursuance of humanitarian rights and to conscientise the public and mobilize support for people struggling for self-determination and/or suffer from war or other forms of dispossession. Website: www.msri.org. my
CAKAP RAKYAT GROUP - is created on 1 December 2008 by a group of young Malaysians whose main objectives are to organize live discussions, debates and public forums in order to deepen understanding of various issues affecting societies, both at global and local level. Their main target audience are the youths of Malaysia - to promote and strengthen the intellectual capacity of young activists in dealing with various human rights and social issues.
--
Warm regards,
Wong Chai Yi
Suaram Outreach and Events Coordinator
+603-77843525 / +6012-7771152
suaramfos@gmail. com
Ong Jing Cheng
Secretary of Administration
Malaysia Youth And Students Democratic Movement(DEMA)
012-7583779
jingcheng85@ yahoo.com
http://demamalaysia .wordpress. com
----- Forwarded Message ----
From: chaiyi wong
To: Demafriend; dema06@yahoogroups. com; dema98@yahoogroups. com; Y4C
Sent: Monday, January 5, 2009 10:58:39 AM
Subject: [y4c2006] Public Forum :MYTH AND REALITY IN OCCUPIED PALESTINE (9/1/09, Friday)
NOT JUST ANOTHER WAR
MYTH AND REALITY IN OCCUPIED PALESTINE
The death of hundreds of people in Gaza brought into limelight once again the happenings in the Occupied Territories . But the final solution to the conflict evades analysts and political observers particularly those working within the Western media whose portrayal of the issue has always been on this assumption: that it is a result of competing national aspirations of the Jews and Muslims for their own state. In order to understand any issue, a knowledge of its origin and background is vital. The Palestinian conflict has been given the utmost coverage, only to cover the truths and give recognition to the myths surrounding its very nature.
So what is the nature of the conflict? Who are the interested parties in the Palestinian question? What are the pitfalls of the countless solutions coming out from Arab and Western capitals? Why have the continued killings of Palestinians generated so much passion among the Arab masses but only statements of regret from their governments? How does it differ from other contemporary wars between nations?
This forum aims not only to dispel the myths and false premises which have together created a flood of analyses on the so-called 'Israel-Palestine' conflict, but also aims to give an overview, historical and current perspective, on the issue.
DATE (FRIDAY) 9 JANUARY 2009
TIME 8:00PM-10:00PM
VENUEBAR COUNCIL AUDITORIUM, BAR COUNCIL BUILDING , JALAN LEBUH PASAR, KUALA LUMPUR
Speakers: Dr Rosli Omar Hishamuddin Rais Dr Farish A Noor Professor Gurdial Singh Nijar
Jointly Organised By The Malaysian Bar&The Malaysian Social Research Institute (MSRI) Cakap-Rakyat Group
Who are the speakers?
Dr Rosli Omar - was trained for his Phd at Imperial College London and is now an Associate Professor at the Department of Electrical Engineering at the University of Malaya 's engineering faculty. His areas of research are mainly on Artifical intelligence, global warming and environment etc. Even though not formally trained politically he has always been interested in humanitarian issues, especially those concerning imperialism and oppression. Due to his deep understanding and extensive reading, he had regularly contributed in various discussions and debates among fellow academicians and youth circles on issues such as globalization, global warming and the middleast conflict.
Hishamuddin Rais - He is still best known for his stewardship of the student movement in the tumultuous 1973-4 demonstrations on subjects like American imperialism and Israeli expansionism, plus the more local concerns of Kedah peasants and Johore squatters – "Baling incident". Throughout his 20 years in self-imposed exile, he remained the Malaysian rebel with a series of adventures in Iraq , Palestine , India , Australia , Moscow , Belgium and finally England . Since his release from 2-year ISA detention during the reformasi era, Hisham is now busy writing, teaching and directing plays, films etc.
Dr. Farish Ahmad-Noor is a Senior Fellow at the Rajaratnam School of International Studies at Nanyang Technical University (NTU), Singapore where he is Director of Research for the Research Cluster on Transnational Religion in Southeast Asia . He is also guest affiliated Professor at both Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) and Sunan Kalijaga Islamic University, Jogjakarta . He is the author of 'Writings on the War on Terror' (2006), 'From Majapahit to Putrajaya' (2005) and 'Islam Embedded: The Historical Development of PAS' (2004).
Professor Gurdial Singh Nijar – (to be confirmed) obtained tertiary qualification in law in King College , London and the University of Malaya . He is Barrister-at- Law, Middle Temple and a registered Advocate and Solicitor in Victoria New South Wales, Australia . He specializes in professional proactive and his current research interest includes many aspects of biodiversity law. He is professor at the Law faculty and the director of the Centre for Biodiversity Law. He has represented Malaysia and the legal profession at numerous international forums and meetings. He has published several books covering civil trial advocacy, indigenous peoples knowledge systems and drafting for lawyers.
Together with the Malaysian Bar, the 2 other co-organisers are:-
The Malaysian Social Research Institute (MSRI), a non profit organisation was inaugurated on 27 November 1959. The purpose of the institute was to produce and publish world-class academic scholarship.
Currently, MSRI continues in its efforts of humanitarian support for the downtrodden, especially for the Palestinian refugees in Lebanon . With the help of caring Malaysians, MSRI's programmes will continue to make a difference in the lives of some of the most unfortunate people in the world.
Among its key objectives is to promote an understanding and appreciation of Muslim and other communities in various parts of the world in pursuance of humanitarian rights and to conscientise the public and mobilize support for people struggling for self-determination and/or suffer from war or other forms of dispossession. Website: www.msri.org. my
CAKAP RAKYAT GROUP - is created on 1 December 2008 by a group of young Malaysians whose main objectives are to organize live discussions, debates and public forums in order to deepen understanding of various issues affecting societies, both at global and local level. Their main target audience are the youths of Malaysia - to promote and strengthen the intellectual capacity of young activists in dealing with various human rights and social issues.
--
Warm regards,
Wong Chai Yi
Suaram Outreach and Events Coordinator
+603-77843525 / +6012-7771152
suaramfos@gmail. com
Ong Jing Cheng
Secretary of Administration
Malaysia Youth And Students Democratic Movement(DEMA)
012-7583779
jingcheng85@ yahoo.com
http://demamalaysia .wordpress. com
----- Forwarded Message ----
From: chaiyi wong
To: Demafriend
Sent: Monday, January 5, 2009 10:58:39 AM
Subject: [y4c2006] Public Forum :MYTH AND REALITY IN OCCUPIED PALESTINE (9/1/09, Friday)
Label:
Burma,
Dunia Islam,
malaysia,
Muhammadiyah,
palestina,
singapore,
Thailand,
vietnam
Kamis, 16 Oktober 2008
Muslim Rohingya yang di lupakan ?
Muslim Rohingya yang tersadai menunggu uluran sedekah di Chiang Rai Thailand Utara, ribuan muslim yang terusir dari negara nya ini menggantungkan hidup di negeri orang, Burma kini Myanmar negara mayoritas Budha ini tak melakoni hidup sebagaimana ajaran yang di bawa oleh Sidharta Gautama, sementara pula kaum salibis sibuk hendak mengkafirkan mereka.
Kelompok Jil atau apalah namanya di Indonesia yang paling sibuk dengan minoritas cuma cuap-cuap di Indonesia saja, katanya membela minoritas.
Berdoa agar umat Kristiani Myanmar dan para duta Injil memperoleh Kesempatan untuk menginjili warga Rohingya yang tersebar. Berdoa agar Tuhan membuka pintu untuk langkah-langkah perdamaian dan pemulihan hak-hak orang Rohingya agar mereka dapat damai di tanah mereka.
Selasa, 14 Oktober 2008
Pendeta Katolik Filipina yang Menemukan Cahaya Islam
Satu negara Asean yang belum pernah aku kunjungi adala Filiphina, sehingga untuk rencana kunjungan kesana aku mencari sebanyak-banyak informasi, kemarin bulan Desember 2007 yang lalu, kami bersama pak Guru demikian orang memanggil nya bertemu di Chiang Mai, Thailand Utara, beliau pernah ke Filiphina, pak Guru ini adalah pensiuan yang kini bermukim di Kedah Malaysia. Karena memang dia orang Malaysia.
Sulit mencari teman orang Indonesia, yang mengetahui keadaan Islam di Filiphina, takut di anggap teroris, karena kasus beberapa aktifis muslim yang di tangkap di sana.
Saat peresmian Islamic Collage Yala di Thailand Selatan tahun 2002, pernah bertemu dengan seorang rekan yang datang dari Filiphina, beliau dapat berbahasa melayu, sayang kontak person nya hilang. Suatu saat nanti aku akan kesana. postingan ini dari http://eramuslim.com/
View Larger Map
Estanislao Soria, Soria melakukan riset sejarah dan sosial serta membaca artikel-artikel tentang Islam, untuk memperkuat argumennya menolak tuntutan gerakan Moro yang ingin menjadikan Mindanao sebagai tanah air bagi Muslim Filipina. Tapi siapa nyana, artikel-artikel tentang Islam yang ia baca, justru membawanya menjadi seorang Muslim.
Ketika tokoh Muslim Moro, Nur Misuari menyatakan wilayah Mindanao harus memisahkan diri dari Filipina dan menjadi negara Islam, Estanislao Soria menjadi orang yang paling menentang keinginan Misuari. Sebagai seorang tokoh agama Katolik yang lahir di Mindanao, ia menolak keras jika tanah kelahirannya diambil alih oleh orang-orang Muslim.
"Saya sangat tidak setuju dengan Misuari dan saya memelopori kampanye menentang gerakan Moro," kata Soria yang populer di panggil "Father Stan". Ketika itu, selain dikenal sebagai pendeta Katolik, Soria juga dikenal sebagai seorang sosiolog.
Sebagai seorang cendikiawan, ia tidak mau sembarangan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keinginan Misuari. Soria pun melakukan riset sejarah dan sosial serta membaca artikel-artikel tentang Islam, untuk memperkuat argumennya menolak tuntutan gerakan Moro yang ingin menjadikan Mindanao sebagai tanah air bagi Muslim Filipina. Tapi siapa nyana, artikel-artikel tentang Islam yang ia baca, justru membawanya menjadi seorang Muslim.
"Sebagai orang yang memahami bahasa Latin, Yunani dan Yahudi, saya pikir saya bisa mempelajari bahasa Arab dengan mudah. Saya juga ingin menerjemahkan tulisan-tulisan berbahasa Arab ke bahasa Inggris dan menerjemahkan ideologi-ideologi Barat, misalnya ideologi eksistensialisme, ke dalam bahasa Arab. Tapi saya menyadari, ini adalah pekerjaan yang sulit," kata Soria seperti dikutip dari Islamonline.
Ketika itu Soria meyakini, dengan banyak menerjemahkan artikel-artikel tentang ideologi Barat ke dalam bahasa Arab, akan membuat Muslim di Mindanao menghargai ajaran Kristen daripada ajaran Islam. "Saya ingin membuka wawasan berpikir mereka tentang kekristenan karena saya banyak mendengar hal-hal negatif tentang Muslim. Saya berpikir, mereka (Muslim) harus dididik," ungkap Soria.
Tapi semakin ia mendalami bacaan-bacaanya tentang kekristenan, ia makin menyadari bahwa tokoh-tokoh gereja seperti Saint Thomas Aquinas ternyata banyak belajar dari buku-buku bacaan dan ajaran Islam. Begitu juga ideologi-ideologi dan ilmu teologi yang disebut-sebut sebagai berasal dari Barat, ternyata sudah sejak lama dibahas dalam Islam.
"Dari bacaan-bacaan itu saya mendapat pencerahan bahwa pemikiran-pemikiran tentang peradaban Barat banyak banyak yang mengambil dari ajaran-ajaran Islam. Dan setelah saya membaca lebih banyak lagi buku-buku yang ditulis pakar agama Islam, pandangan saya terhadap Islam seketika berubah," papar Soria.
"Saya bahkan menyadari bahwa Injil Barnabas lebih kredibel dibandingkan dengan keempat injil yang dibawa oleh ajaran evangelis termasuk injil Kristen. Dari hasil riset sosiologi yang saya lakukan, saya juga banyak menemukan bahwa hal-hal negatif yang sering saya dengar tentang Muslim Filipina ternyata tidak benar," tambah Soria.
Akhirnya, pada tahun 2001, Soria yang telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun sebagai pendeta di berbagai kota di Manila, menyatakan diri masuk Islam. Setelah mengucap syahadat, ia mengganti namanya menjadi Muhammad Soria. Meski demikian, masih banyak orang, termasuk teman-temannya yang Muslim memanggilnya "Father Stan."
Soria yang kini berusia 67 tahun mengatakan, ia mendapat hinaan dan kecaman dari kerabat dan rekan-rekan gerejanya ketika memutuskan menjadi seorang Muslim. Namun hinaan dan kecaman itu tidak membuatnya berat menanggalkan aktvitas kependetaan yang sudah dijalaninya selama 14 tahun dan membuatnya mantap untuk memeluk Islam.
Seiring perjalanan waktu, Soria mulai terbiasa menjalani kewajiban-kewajibannya sebagai seorang Muslim. Bagi Soria, Islam bukan sekedar agama tapi sudah menjadi jalan hidupnya. Selama tujuh tahun menjadi seorang Muslim, Soria sudah lima kali menunaikan ibadah haji, menjadi anggota Gerakan Dakwah Islam di Filipina dan tahun 2004 menikah dengan seorang perempuan berusia 24 tahun, setelah sebelumnya menjalani hidup membujang sebagai pendeta Katolik.
"Dalam Islam, kita diajarkan, jika bisa mendisplinkan diri kita, Sang Pencipta akan mengabulkan harapan-harapan kita," tandas Soria.
Menurut Soria, jika ada satu hal yang harus dicontoh umat Islam dari orang-orang Kristen adalah, gerakan mereka yang terorganisir dan terstruktur dengan sangat rapi. "Dengan memiliki struktur yang kuat seperti yang dimiliki kalangan Kristiani, akan mempermudah penyebaran Islam," kata Soria.
Salah satu cara untuk memperkuat struktur umat Islam, tambah Soria, Muslim harus membangun universitas-universitas di seluruh dunia seperti yang dilakukan kelompok misionaris Kristen di berbagai belahan dunia.
Sulit mencari teman orang Indonesia, yang mengetahui keadaan Islam di Filiphina, takut di anggap teroris, karena kasus beberapa aktifis muslim yang di tangkap di sana.
Saat peresmian Islamic Collage Yala di Thailand Selatan tahun 2002, pernah bertemu dengan seorang rekan yang datang dari Filiphina, beliau dapat berbahasa melayu, sayang kontak person nya hilang. Suatu saat nanti aku akan kesana. postingan ini dari http://eramuslim.com/
View Larger Map
Estanislao Soria, Soria melakukan riset sejarah dan sosial serta membaca artikel-artikel tentang Islam, untuk memperkuat argumennya menolak tuntutan gerakan Moro yang ingin menjadikan Mindanao sebagai tanah air bagi Muslim Filipina. Tapi siapa nyana, artikel-artikel tentang Islam yang ia baca, justru membawanya menjadi seorang Muslim.
Ketika tokoh Muslim Moro, Nur Misuari menyatakan wilayah Mindanao harus memisahkan diri dari Filipina dan menjadi negara Islam, Estanislao Soria menjadi orang yang paling menentang keinginan Misuari. Sebagai seorang tokoh agama Katolik yang lahir di Mindanao, ia menolak keras jika tanah kelahirannya diambil alih oleh orang-orang Muslim.
"Saya sangat tidak setuju dengan Misuari dan saya memelopori kampanye menentang gerakan Moro," kata Soria yang populer di panggil "Father Stan". Ketika itu, selain dikenal sebagai pendeta Katolik, Soria juga dikenal sebagai seorang sosiolog.
Sebagai seorang cendikiawan, ia tidak mau sembarangan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keinginan Misuari. Soria pun melakukan riset sejarah dan sosial serta membaca artikel-artikel tentang Islam, untuk memperkuat argumennya menolak tuntutan gerakan Moro yang ingin menjadikan Mindanao sebagai tanah air bagi Muslim Filipina. Tapi siapa nyana, artikel-artikel tentang Islam yang ia baca, justru membawanya menjadi seorang Muslim.
"Sebagai orang yang memahami bahasa Latin, Yunani dan Yahudi, saya pikir saya bisa mempelajari bahasa Arab dengan mudah. Saya juga ingin menerjemahkan tulisan-tulisan berbahasa Arab ke bahasa Inggris dan menerjemahkan ideologi-ideologi Barat, misalnya ideologi eksistensialisme, ke dalam bahasa Arab. Tapi saya menyadari, ini adalah pekerjaan yang sulit," kata Soria seperti dikutip dari Islamonline.
Ketika itu Soria meyakini, dengan banyak menerjemahkan artikel-artikel tentang ideologi Barat ke dalam bahasa Arab, akan membuat Muslim di Mindanao menghargai ajaran Kristen daripada ajaran Islam. "Saya ingin membuka wawasan berpikir mereka tentang kekristenan karena saya banyak mendengar hal-hal negatif tentang Muslim. Saya berpikir, mereka (Muslim) harus dididik," ungkap Soria.
Tapi semakin ia mendalami bacaan-bacaanya tentang kekristenan, ia makin menyadari bahwa tokoh-tokoh gereja seperti Saint Thomas Aquinas ternyata banyak belajar dari buku-buku bacaan dan ajaran Islam. Begitu juga ideologi-ideologi dan ilmu teologi yang disebut-sebut sebagai berasal dari Barat, ternyata sudah sejak lama dibahas dalam Islam.
"Dari bacaan-bacaan itu saya mendapat pencerahan bahwa pemikiran-pemikiran tentang peradaban Barat banyak banyak yang mengambil dari ajaran-ajaran Islam. Dan setelah saya membaca lebih banyak lagi buku-buku yang ditulis pakar agama Islam, pandangan saya terhadap Islam seketika berubah," papar Soria.
"Saya bahkan menyadari bahwa Injil Barnabas lebih kredibel dibandingkan dengan keempat injil yang dibawa oleh ajaran evangelis termasuk injil Kristen. Dari hasil riset sosiologi yang saya lakukan, saya juga banyak menemukan bahwa hal-hal negatif yang sering saya dengar tentang Muslim Filipina ternyata tidak benar," tambah Soria.
Akhirnya, pada tahun 2001, Soria yang telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun sebagai pendeta di berbagai kota di Manila, menyatakan diri masuk Islam. Setelah mengucap syahadat, ia mengganti namanya menjadi Muhammad Soria. Meski demikian, masih banyak orang, termasuk teman-temannya yang Muslim memanggilnya "Father Stan."
Soria yang kini berusia 67 tahun mengatakan, ia mendapat hinaan dan kecaman dari kerabat dan rekan-rekan gerejanya ketika memutuskan menjadi seorang Muslim. Namun hinaan dan kecaman itu tidak membuatnya berat menanggalkan aktvitas kependetaan yang sudah dijalaninya selama 14 tahun dan membuatnya mantap untuk memeluk Islam.
Seiring perjalanan waktu, Soria mulai terbiasa menjalani kewajiban-kewajibannya sebagai seorang Muslim. Bagi Soria, Islam bukan sekedar agama tapi sudah menjadi jalan hidupnya. Selama tujuh tahun menjadi seorang Muslim, Soria sudah lima kali menunaikan ibadah haji, menjadi anggota Gerakan Dakwah Islam di Filipina dan tahun 2004 menikah dengan seorang perempuan berusia 24 tahun, setelah sebelumnya menjalani hidup membujang sebagai pendeta Katolik.
"Dalam Islam, kita diajarkan, jika bisa mendisplinkan diri kita, Sang Pencipta akan mengabulkan harapan-harapan kita," tandas Soria.
Menurut Soria, jika ada satu hal yang harus dicontoh umat Islam dari orang-orang Kristen adalah, gerakan mereka yang terorganisir dan terstruktur dengan sangat rapi. "Dengan memiliki struktur yang kuat seperti yang dimiliki kalangan Kristiani, akan mempermudah penyebaran Islam," kata Soria.
Salah satu cara untuk memperkuat struktur umat Islam, tambah Soria, Muslim harus membangun universitas-universitas di seluruh dunia seperti yang dilakukan kelompok misionaris Kristen di berbagai belahan dunia.
Label:
Burma,
Dunia Islam,
malaysia,
Muhammadiyah,
singapore,
Thailand,
vietnam
Sabtu, 13 September 2008
Idul Adha 1428 di Thailand Utara.
Label:
Burma,
Dunia Islam,
Muhammadiyah,
Thailand
Langganan:
Postingan (Atom)